Help/Support
Like
Contact
AD. PIROUS

AD. PIROUS



AD. PIROUS (Lahir/Born 1933)

A.D. Pirous dikenal dengan karya-karyanya yang bernafaskan islami. Pengungkapannya dalam lukisan lewat konstruksi struktur bidang-bidang dengan latar belakang warna yang memancarkan berbagai karakter imajinatif. Dengan prinsip penyusunan itu, pelukis ini sangat kuat sensibilitasnya terhadap komposisi dan pemahaman yang dalam berbagai karakter warna.

(Artikel dan gambar diambil dari www.galeri-nasional.or.id/galeri-nasional/)



Like
ccc

Add to Cart

UNTITLED KARYA WASSILY KANDINSKY

UNTITLED KARYA WASSILY KANDINSKY



WASSILY KANDINSKY (1866 - 1944)

Dalam karya serigrafi ini Kandinsky lebih cenderung mempraktekkan teorinya tentang komposisi, daripada impresi dan improvisasi sebagai sumber penciptaan karyanya. Dalam komposisi ungkapan seniman yang mengalir lewat perasaan terbentuk secara sadar dan bertahap, walaupun proses itu juga bersifat tidak rasional. Akan tetapi dalam karya ini juga bisa dilihat munculnya spontanitas garis-garis yang lahir dari impulse. Dengan demikian, walaupun tidak dominan, dalam karya ini sebenarnya juga mengandung unsur improvisasi. Pengkategorian sumber penciptaan dalam komposisi, improvisasi dan impresi memang tidak bisa secara ketat dipakai untuk mengklasifikasikan suatu karya. Banyak karya yang didalam banyak mengadung berbagai kategori sumber penciptaan seperti yang telah dipilah-pilah Kandinsky tersebut. Walaupun demikian salah satu kategori itu bisa menjadi pola sumber penciptaan yang paling dominan.

Dalam karya ini tersaji suatu komposisi yang terdiri dari bentuk-bentuk formal dan garis-garis yang bersifat spontan. Bentuk-bentuk geometric segi empat dan segitiga menjadi lebur dalam ritme keseluruhan. Leburnya bentuk-bentuk formal ini dikarenakan masuknya elemen-elemen biomorphic di dalamnya dan keseimbangan gerak oleh bentuk bulatan serta garis yang meliuk. Sejak masih bergulat pada kelompok ekspresionis De Blaue Reiter, ia telah menunjukkan gejala kepeloporan dengan penghilangan fungsi objek-objeknya. Pada bagian itu menunjukkan munculnya sifat analitik. Di pihak lain ia dikenal mempunyai intuisi yang meluap pada kesegaran warna, ritme garis dan bentuk. Dalam karya serigrafi ini seluruh elemen garis, bentuk dan warna hadir sebagai ritme musical yang bisa merefleksikan kekuatan intelektual dan ketajaman intuisi Kandinsky.

Tanpa Judul / Untitled

Serigrafi / Seriegraphy, 50 x 65 cm, Inv. 97/SG/C



(Artikel dan gambar diambil dari www.galeri-nasional.or.id/galeri-nasional/)
Like
ccc

Add to Cart

HUTAN KARYA WIDAYAT

HUTAN KARYA WIDAYAT


WIDAYAT (1923 - 2002)
Dalam lukisan berjudul “Hutan” ini, Widayat memperlihatkan kecenderungan pada gaya dekoratif yang telah mencapai personal style-nya dengan kuat. Gaya pribadi Widayat itu mempunyai ciri pada deformasi bentuk-bentuknya yang bersumber dari citra seni primitif. Bentuk-bentuk itu semakin kuat mengungkapkan ekspresi karena didukung oleh karakter unsur-unsur visualnya. Dalam lukisan ini, bentuk-bentuk manusia dan binatang yang dilukiskan dengan deformasi sederhana berada di antara ruang-ruang sempit dan himpitan bentuk-bentuk pohon yang berderet dan berjejalan. Dengan warna dan tekstur yang berat, lukisan “Hutan” ini mengungkapkan citra primitif yang kental.
Diantara tema yang banyak dilukis, kegairahan Widayat pada dunia flora dan fauna mempunyai kekuatan tersendiri. Banyak pengamat menghubungkan imajinasi tema itu dengan kenangan Widayat semasa bekerja sebagai pengukur hutan di Sumatera. Namun lebih dari itu, ia sebenarnya dapat dilihat tengah memberi makna hubungan spiritualnya dengan dunia makrokosmos. Kesadaran ini juga dapat dilihat pada lukisan ”Hutan” tersebut. Dalam lukisan itu, ia menghadirkan hubungan berbagai unsur mikrokosmos, seperti manusia, binatang-binatang, dan lebatnya pohon-pohon yang dalam suasana harmonis, namun penuh menyimpan misteri ini, juga merupakan ciri spiritual ketimuran yang tetap menjadi sumber spirit pelukis-pelukis modern Indonesia.
Minat Widayat pada seni lukis mulai diperlihatkan pada waktu menjadi tentara Divisi Garuda, Seksi Penerangan, di Palembang 1947 -1949. Pada waktu itu ia banyak membuat poster dan dekorasi studio foto. Ketika Widayat harus melukis realisme pada awal studi di ASRI, lukisannya tidak menunjukkan teknik realis yang kuat, tetapi justru menampakkan sifat kegarisan yang datar (dwi matra). Hal itu ternyata merupakan kecenderungan yang akhirnya menjadi gaya personalnya sampai matang.
Dalam proses pembentukannya, Widayat banyak menyerap gaya dekoratif dari Kartono Yudhokusumo dan Jean Dubuffet yang ekspresionis dengan karakter primitif. Ia meleburkan perbendaharaannya itu dalam kreativitas yang melahirkan gaya khas. Widayat sangat dengan berbagai karakter gaya pribadi. Penjelajahannya mulai dari bentuk-bentuk yang agak realistik, penyederhanaan lewat abstraksi dan deformasi, sampai pada abstrak total. Semua itu mengandung unsur yang sifatnya dekoratif. Meskipun demikian, yang paling kuat memberi identitas karakter pribadinya adalah bentuk-bentuk dengan deformasi dan unsur-unsur hias primitif geometrik.
Hutan / The Forest (1973)
Cat minyak di atas kanvas / Oil on canvas, 100 x 70 cm, Inv. 563/SL/B
(Artikel dan gambar diambil dari www.galeri-nasional.or.id/galeri-nasional/)
Like
ccc

Add to Cart

PERAHU KARYA PELUKIS ZAINI

PERAHU KARYA PELUKIS ZAINI





PERAHU KARYA PELUKIS ZAINI (1924 -1977)

Dalam lukisan ini, Zaini melukiskan perahu dengan abstraksi yang menghadirkan suasana puitik. Dengan sapuan-sapuan kuas yang menciptakan nuansa lembut, warna dan garis dalam lukisan Zaini ternyata memunculkan objek-objek dalam kekaburan. Dengan lukisan-lukisan bernuansa lembut itulah Zaini sangat kuat menciptakan bahasa abstraksi liris. Personal style yang menjadi ciri khas Zaini itu merupakan hasil perjuangan panjang sejak tahun 1950-an. Lukisan “Perahu” ini, seperti kekuatan lukisan-lukisannya yang lain yaitu menyampaikan pesan misteri dari kehadiran samar-samar objeknya.

Dengan semangat yang senafas dengan Oesman Effendi, semenjak di sanggar SIM Yogyakarta karya-karya Zaini telah menuju pada penyederhanaan bentuk-bentuk yang naïf. Namun demikian, pada tahun 1949 ia keluar dari SIM karena dalam sanggar semakin kuat pengaruh paradigma estetik “kerakyatan revolusioner” yang berhaluan kiri dan tidak sejalan dengannya. Pada saat itulah ia pindah ke Jakarta dan mulai mengembangkan karya-karyanya dengan media pastel yang menghasilkan garis dan warna lembut.

Dari proses panjang, eksplorasi teknik dengan pencarian bentuk lewat goresan spontan dan lembut menghadirkan objek-objek impresif. Objek-pbjek itu menjadi sosok kabur dengan ekspresi sunyi yang kuat. Mencermati karya-karya Zaini dalam periode selanjutnya, seperti memasuki dunia yang sarat dengan perenungan spiritual. Di dalamnya mengadung berbagai tanggapan personal tentang kerinduan, kesunyian, kehampaan, bahkan kematian. Objek-objek seperti perahu, bunga, burung mati, atau apapun, merupakan esensi yang disajikan dari berbagai fenomena dunia luar untuk memahami perenungan spiritual itu. Dalam risalah Trisno Sumardjo tahun 1957, dikatakan proses dialog spiritual lewat objek-objek sederhana itu menjadi jembatan untuk memahami perenungannya pada dunia kosmosnya yang lebih besar. Puncak pencapaian abstraksi dan spiritualisasi objek-objek itu terjadi pada tahun 1970-an, yaitu ketika ia dengan kuat menghadirkan suasana puitis dalam karya-karyanya. Zaini menjadi penyaring objek-objek yang sangat ekspresif lewat goresan cat minyak dan akrilik, dengan warna lembut seperti kabut.

Perahu / The Boat (1974)

Cat minyak di atas kanvas / Oil on canvas, 65 x 80 cm, Inv. 247/SL/A

Posted on 15 Mar 2007 by webmaster

(ARTIKEL DAN GAMBAR DIAMBIL DARI www.galeri-nasional.or.id)





Like
ccc

Add to Cart