Help/Support
Like
Contact
KARYA CIPTA PARA PELUKIS BALI II

KARYA CIPTA PARA PELUKIS BALI II











Lukisan Wayang Kamasan

Posted by Adnyana under Kerajinan Bali

http://kemoning.info/blogs/wp-content/uploads/2009/06/kamasan_02.jpghttp://kemoning.info/blogs/wp-content/uploads/2009/06/kamasan_03.jpg

ASAL-USUL lukisan wayang tradisional gaya Kamasan, menurut I Made Kanta (1977), merupakan kelanjutan dari tradisi melukis wong-wongan (manusia dengan alam sekitar) pada zaman pra-sejarah hingga masuknya agama Hindu di Bali dan keahlian tersebut mendapatkan kesempatan berkembang dengan baik. Cerita yang dilukis gaya Kamasan banyak yang mengandung unsur seni dan makna filosofis yang diambil dari Ramayana dan Mahabharata, termasuk juga bentuk pawukon dan palelidon. Salah satu contoh warisan lukisan Kamasan telah menghiasi langit-langit di Taman Gili dan Kerthagosa, Semarapura, Klungkung.

Menyelamatkan Lukisan Kamasan dari “Kematian” Permanen

MENYEBUT nama Desa Kamasan, Klungkung, maka ingatan kita akan tertancap pada sebentang kanvas berhiaskan tokoh-tokoh pewayangan. Kamasan memang sudah sangat identik dengan lukisan wayang klasik itu. Dari generasi ke generasi, krama Kamasan begitu suntuk menekuni kesenian warisan leluhurnya. Gemuruh perkembangan seni rupa dunia yang menawarkan beragam aliran, tak kuasa membuat mereka berpaling. Bahkan, tidak sedikit krama Kamasan menggantungkan sumber penghidupannya dari aktivitas berkesenian (melukis wayang Kamasan-red) itu.

===========================================================

Dulu, ketika booming pariwisata masih menerpa Bali, lukisan wayang Kamasan memang menjadi benda seni buruan kaum pelancong. Apalagi, kreativitas seniman lukis Kamasan tidak hanya terpaku pada bentangan kanvas semata. Wujud tokoh-tokoh pewayangan nan khas itu juga diguratkan di atas lembaran dompet, cangkang telur hingga helm pengaman. Benda-benda itu pun menjelma menjadi suvenir bercitarasa seni tinggi. Sayang, seni lukis Bali klasik itu kini tak lagi “menggairahkan” untuk “digumuli” sebagai sumber penghidupan.

Tragedi Bom Bali I dan Bom Bali II yang datang susul-menyusul membuat angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali anjlok drastis. Dan, seniman Kamasan pun “menggigil kedinginan” menanti kehadiran para turis untuk membeli lukisan wayang. Gemerincing dolar tak lagi terdengar riuh di desa yang pada masa kerajaan silam dikenal sebagai kampungnya para seniman itu.

Ada seniman yang mencoba tetap bertahan menggumuli tradisi leluhurnya, namun tidak sedikit pula seniman yang terpaksa alih profesi. Menjadi tukang bangunan, tukang prada, petani dan beragam profesi lainnya yang dinilai lebih menjanjikan. Mendung tebal tengah menggantung di langit Kamasan. Jika kondisi ini terus berlanjut, tidak tertutup kemungkinan seni lukis klasik Bali nan adiluhung itu tinggal kenangan manis semata. Sebelum “kematian” permanen itu tiba, pemerintah wajib melakukan langkah-langkah penyelamatan. Upaya penyelamatan yang tidak hanya sebatas menyimpan lukisan-lukisan wayang Kamasan itu di museum. Namun, yang terpenting lagi adalah bagaimana menjaga aktivitas melukis wayang Kamasan itu terus berdenyut.

Pola Konvensional

Pembantu Rektor (PR) I Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Drs. I Ketut Murdana, M.Sn. tidak menampik bahwa alih profesi besar-besaran kini tengah melanda komunitas pelukis wayang Kamasan. Fenomena ini makin menjadi-jadi ketika tragedi bom mengguncang Bali untuk kedua kalinya pada 2005 lalu yang serta merta membuat kunjungan wisatawan mancanegara ke Kamasan turun drastis. Padahal, pangsa pasar lukisan produk Kamasan ini sepenuhnya tergantung dari kunjungan wisatawan mancanegara itu.

“Saat ini, pelukis Kamasan memang tengah terpuruk. Keterpurukan ini bukan lantaran seni lukis klasik Bali itu jatuh dari segi kualitas. Tetapi, murni lantaran mereka tidak kuasa melepaskan diri dari kondisi industri pariwisata Bali yang tak kunjung pulih,” ujarnya.

Dalam memasarkan karya seninya, katanya, mayoritas pelukis Kamasan mengandalkan pola pemasaran konvensional. Mereka hanya diam di rumah menunggu penikmat seni datang untuk membeli lukisan. Jarang sekali ada pelukis Kamasan yang proaktif menggelar pameran guna mempromosikan karya-karyanya. Apalagi, sampai membuka website khusus untuk kepentingan tersebut. Padahal, untuk bisa bersaing di ranah seni rupa yang makin kompetitif, pola pemasaran konvesional itu tidak lagi bisa terlalu diandalkan.

“Memang, sangat jarang ada pelukis wayang Kamasan yang aktif menggelar pameran. Kendalanya, mungkin karena mereka tidak memiliki dana yang cukup untuk membiayai pameran itu seperti menyewa gedung maupun persiapan lainnya,” katanya dan menambahkan, di sinilah peran pemerintah untuk memfasilitasi para seniman itu agar bisa berpameran secara rutin. Termasuk, membantu dari segi pendanaan.

Pelukis akademis ini juga membantah tegas jika keseragaman corak pada lukisan wayang Kamasan diklaim sebagai biang keladi terpuruknya seni lukis klasik Bali itu. Meskipun berada pada corak yang sama, kata dia, masing-masing pelukis menempatkan proses kreatifnya secara personal yang dituangkan lewat bentuk wayang, ornamentasi, komposisi, pewarnaan, ketajaman dan kekuatan garis yang kesemuanya nampak memberikan pencitraan artistik pembobotan seni lukis itu sendiri.

Artinya, di dalam keseragaman corak itu tetap ada perbedaan. Lukisan wayang Kamasan karya I Nyoman Mandra, misalnya, pasti punya kekhasan tersendiri yang bisa dibedakan dengan para pelukis wayang Kamasan lainnya. “Jadi, masing-masing pelukis tetap memiliki kekhasannya sendiri-sendiri,” katanya lagi.

Pameran Internasional

Menurut Murdana, lukisan wayang Kamasan sejatinya sudah mampu menggebrak jagat seni dunia sejak puluhan tahun silam. Pada 1937 lalu, salah satu karya Ida Bagus Gelgel yang berjudul “Kematian Abimanyu” sempat dikirim untuk mengikuti pameran internasional di Paris. Kala itu, Kementerian Perdagangan dan Industri Prancis menganugerahkan medali perak untuk karya seni lukis klasik itu. Sebuah prestasi yang amat mengagumkan. Namun, sebelum penghargaan itu diterima, seniman besar itu telah dipanggil Yang Mahakuasa. “Sekarang, lukisan itu tersimpan di Museum Tropis Amsterdam,” katanya.

Sesuai catatan sejarah, katanya, pada pameran internasional itu juga dipamerkan karya Pablo Picasso yang berjudul “Guernika”. Karya lukis yang menggambarkan kebiadaban pesawat-pesawat tempur Jerman atas perintah diktator Spanyol membombartir Guernika pada tanggal 24 April 1937 itu disebut-sebut sebagai lukisan terbaik abad ke-20. Dari catatan sejarah itu, dapat diketahui bahwa pelukis Bali sejatinya sudah berkompetisi dan mampu berdiri sejajar dengan pelukis-pelukis besar dunia sejak puluhan tahun silam.

“Sejumlah pelukis lainnya dari Kamasan yang ikut mengharumkan nama bangsa seperti Mangku Mura, I Nyoman Mandra, Suciarmi dan sebagainya. Saat ini pun sebenarnya bermunculan sejumlah pelukis muda yang cukup andal seperti terlihat pada pameran PKB ke-28 tahun 2006 lalu. Barisan pelukis muda itu di antaranya Pande Sumantra, I Wayan Puspa, Ni Wayan Sri Wedari, Ni Made Sri Rahayu dan banyak lagi pelukis muda bertalenta besar lainnya. Namun, apakah mereka akan tetap konsisten menekuni seni warisan leluhur itu untuk selanjutnya mewariskannya kepada generasi berikutnya, tentu saja waktu yang akan menjawabnya,” katanya lagi.

* w. sumatika

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2006/12/16/bd2.htm

Pelukis Kamasan

YANG dimaksudkan lukisan gaya Kamasan oleh masyarakat umum adalah lukisan wayang dengan penampilan sepotong cerita. Namun, jauh sebelumnya gaya Kamasan adalah simbol yang melukiskan berbagai dewa dalam mitologi Hindu yang menceritakan tentang hari baik, pengaruh peredaran bulan terhadap kelahiran seseorang, dan sebagainya. Dewa-dewa dalam mitologi Hindu itu dilukis bergaya wayang. Gaya ini kemudian disebut sebagai lukisan klasik Kamasan. Orang dengan mudah bisa membedakan yang mana gaya Kamasan, yang mana tidak, hanya dengan melihat adegan dalam kanvas itu.

Belakangan gaya Kamasan ini sudah mulai ditiru seiring dengan permintaan pasar. Sementara itu bahan-bahan yang dipakai melukis juga sudah modern seperti cat. Dulu dipakai warna alam, misalnya dari atal, kencu, ancur dan sebagainya. Produk lukisan itu pun tidak lagi terbatas untuk keperluan ritual seperti langse atau pangider-ider. Lukisan Kamasan sudah menjadi barang pajangan seperti halnya lukisan-lukisan yang lain.

Kini muncul pula kreativitas baru yang tidak terkungkung pada kanvas, misalnya, dengan menggunakan media kayu atau bambu. Penggunaan media ini sebenarnya sudah dilakukan di banyak tempat. Ukiran dari kayu banyak menghiasi rumah-rumah, apakah itu berdiri sendiri sebagaisebuah lukisanatau untuk hal-hal yang fungsional seperti daun pintu, jendela dan lubang angin. Namun yang muncul dari Kamasan bukan sekadar ukiran, tetapi sebuah corak (style). Atau lebih khusus lagi, style khas Kamasan yang sudah populer itu, berupa adegan dari tokoh-tokoh wayang yang membentuk sepotong cerita. Dengan kata lain, lukisan wayang Kamasan yang boleh dikatakan klasik itu, kini berpindah ke media kayu dan bambu. Bahkan, kulit telor pun mulai pula dilukis gaya Kamasan.

Masalahnya, apakah generasi muda pelukis Kamasan masih tetap menangkap roh yang ada pada para pendahulunya? Antara lain filosofi cerita yang mau ditampilkan, dan juga keragaman flora yang menjadi latar belakang darigambarwayang itu. Ini yang luntur. Pertama karena pengaruh dari pesanan itu, yang tentu tak bisa ditampik karena urusan bisnis. Masalah kedua, yang bekerja sebagai pelukis juga banyak, satu orang menampik pesanan, dua orang mau meladeni. Artinya sudah mulai ke arah komersialisasi tanpa lagi mementingkan mutu.

Masalah ketiga, ini yang gawat, adanya pemalsuan gaya Kamasan, atau lebih tepat disebut muncul lukisan gaya Kamasan yang bukan dikerjakan seniman Kamasan. Di Pasar Seni Sukawati, banyak pedagang yang menjajakan lukisan klasik dan tradisional Kamasan. Kalau pembelinya sangat awam dan bertanya dari mana karya itu berasal, pedagang langsung menyebutkan: Kamasan. Pembeli tak begitu hirau, dan juga tak tahu benar tidaknya. Namanya saja untuk cenderamata atau oleh-oleh, tak masalah di mana lukisan dikerjakan. Yang penting adalah kesan bahwa yang dibeli adalah lukisan Kamasan, tak peduli itu dilukis di Kamasan atau desa lainnya.

Bisa saja lukisan itu betul-betul buatan para pelukis Desa Kamasan. Tetapi besar sekali kemungkinannya tidak. Yang membuat keadaan lebih rancu lagi, yang disebutkan klasik bagi pedagang asongan itu adalah sebuah gaya yang memang dulunya mengangkat nama Kamasan. Misalnya, lukisan wayang yang di latarbelakangnya penuh dengan ornamen flora. Atau simbol-simbol dan wujud Dewa dalam mitologi Hindu (disebut palalintangan) yang menceritakan tentang baik buruknya hari (ala ayuning dewasa). Juga mengenai pengaruh peredaran bulan terhadap kelahiran seseorang. Ketika gaya ini ditiru di banyak desa, dan lukisanklasik Kamasanini diproduksi secara massal di mana-mana, lalu dijual pula di mana-mana dengan harga yang murahkarena mutunya juga asal-asalanmaka Kamasan sebagai sentra pelukis sudah tercemar. Orang tak lagi datang ke Kamasan dan seniman di sini tentu saja bisa frustrasi dan beralih profesi karena produknya tersaingi.

Celakanya, begitu mutu lukisan itu merosot jauh, maka orang pun dengan mudah juga mengatakan, lukisan klasik Kamasan tidak sebagus yang lalu. Atau tudingan lain, seniman di Kamasan tidak lagi kreatif dan hanya menghasilkan karya-karya yang monoton.

Padahal, perubahan juga terjadi di Kamasan. Di masa lalu, lukisan Kamasan adalah gambar-gambar orang atau tokoh-tokoh dalam ceritra apa saja, yang lepas. Sekarang gaya itu masih terlihat pada kain prada yang disablon warna emas. Belakangan, ”gaya Kamasansudah mulai menampilkan lukisan wayang yang bercerita, dan ini membutuhkan goresan tertentu untuk menampilkan karakter tokoh.

Belum lagi bidang lukisan, awalnya bidang dibatasi oleh kegunaan, misalnya, melukis untuk ukuran langse (tirai balai atau pertunjukan), melukis untuk pangider-ider dan sejenisnya. Kini, bidang itu sudah mengacu kepada hal-hal modern, yakni lukisan untuk pajangan di dinding hotel, plafon rumah, bahkan plafon gedung Ksirarnawa Taman Budaya. Kalau kegunaan sudah melebar dan peralatan melukis bertambah banyak, siapa pun bisa mengerjakannya, tidak harus diproduksi di Kamasan. Artinya, nama Kamasan tinggal sebagai sebutangayaatau ‘’style”, sementara pelukisnya bukan dari Kamasan. Ya, entah siapa yang salah dalam hal ini, yang jelas seniman Kamasan jadi mendapat saingan.

* Putu Setia

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2006/12/16/bd1.htm

Jangan Lupakan Sangging Modara

BERBICARA eksistensi lukisan wayang Kamasan, kata Murdana, kita tidak bisa melupakan sosok Sangging Modara. Sejak abad ke-17 (sekitar tahun 1686), seniman besar ini telah menancapkan ketinggian tonggak kreatif yang dilindungi Raja Klungkung pada saat itu. Tonggak kreatif dengan standardisasi unsur-unsur estetik, tahapan-tahapan proses dan keseriusan menggarap makna filosofi Hindu itu membentuk kehalusan budi. Cakupan unsur-unsur tadi membentuk kualitas estetis, menjadi pola anutan yang dapat berkembang hingga kini.

Ketinggian dan kesuburan kreatif yang penuh makna itu, katanya, merupakan proses kerja tri-tunggal atara Brahmana sebagai pengkaji nilai dan makna, Raja sebagai pengayom dan penyalur energi serta seniman sebagai kreator pengembang. Ketiganya menyatu melalui dharma masing-masing. Vibrasi dari tiga dharma melalui kesucian, kekuatan dan kejujuran mampu menghasilkan fondasi budaya yang adiluhung. Tema-tema yang syarat makna filosofis tetap menjadi pedoman pencapaian kualitas kreatif estetiknya.

Teladan ini sudah semestinya dijadikan pegangan bagi kita semua, terutama para kreator, pemerintah sebagai penentu kebijakan, kritikus, impresario, para cendekiawan dan lain-lainnya agar semua potensi yang ada dapat diberdayakan,” paparnya panjang lebar.

Murdana mengaku sengaja menyodorkan fakta sejarah itu untuk mengetuk ruang kesadaran semua pihak agar tergerak untuk melestarikan potensi seni budayanya yang mulai terpuruk itu. Dengan menerapkan proses kerja tri-tunggal itu, dia berharap potensi-potensi yang mulai terpuruk itu bisa dibangkitkan kembali.

Dituangkan dalam Perda

Dihubungi terpisah, Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Wayan Rai S, M.A. juga sepakat perlunya sinergi dalam melestarikan seni-budaya adiluhung warisan leluhur. Dalam konteks pelestarian lukisan wayang Kamasan dan lukisan tradisi Bali lainnya, kurikulum ISI Denpasar sebenarnya sudah memfasilitasi hal itu. Caranya, dengan memasukkan mata kuliahMelukis Tradisisebagai mata kuliah yang wajib diikuti mahasiswa jurusan Seni Rupa.

Seni lukis Wayang Kamasan ini telah dijadikan satu mata kuliah yang dipelajari secara serius oleh mahasiswa. Kami juga berupaya memperbanyak mata kuliah-mata kuliah muatan lokal yang sejalan dengan upaya-upaya pelestarian seni budaya Bali tersebut,” katanya sambil menambahkan, seni lukis klasik Bali ini akan tetap diajarkan dan sangat menentukan profil kesarjanaan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar.

Dikatakan, proses pembelajaran yang menekankan akademik profesional akan menuntut mahasiswa mampu melukis wayang dan mengkaji nilai-nilai estetik, filosofis serta unsur-unsur penunjang lainnya. Aktivitas ini secara tidak langsung akan menciptakan kondisi keberlangsungan kehidupan seni lukis itu sendiri,” tegasnya.

Lantas, peran apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk menyelamatkan warisan adiluhung leluhur manusia Bali itu dari kematian permanen? Menurut Rai dan Murdana, pemerintah daerah secepatnya harus menentukan langkah-langkah kebijakan sehingga dapat menjaga kelangsungan hidup seni-seni tradisi itu. Misalnya, meniru langkah yang ditempuh oleh DPRD Bali yang menghias gedungnya dengan lukisan wayang Kamasan.

Di masa datang, pihaknya mendambakan seluruh langit-langit gedung dan dinding perkantoran milik pemerintah dihiasi lukisan klasik Bali seperti yang ada pada bangunan Kerthagosa di Klungkung. Selain lukisan stil Kamasan, lukisan stil Batuan, Pengosekan, Ubud dan sebagainya juga bisa diimplementasikan untuk kepentingan itu.

“Agar hal itu memiliki kekuatan hukum yang mengikat, kewajiban menghiasi interior kantor pemerintahan dengan lukisan klasik Bali itu sebaiknya dituangkan ke dalam peraturan daerah. Atau bisa juga sebagai penunjang perda tentang bangunan stil Bali. Dengan begitu, para pelukis akan lebih berdaya dalam meningkatkan status sosial ekonominya.

Semoga hal ini dapat dipertimbangkan oleh para penentu kebijakan dan dapat menjadi kenyataan ,” kata Murdana yang didukung pula oleh Rai. * w. sumatika

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2006/12/16/bd3.htm

Like
ccc

Add to Cart

RASA PUSING MENGGANGGU AKTIFITAS DALAM BERKARYA SENI

RASA PUSING MENGGANGGU AKTIFITAS DALAM BERKARYA SENI

Gambar ini di ambil dari www.ahliwasir.com

Visualisasi pusing diambil dari www.xx.vertigo.blogspot.com

Gambaran orang pusing di ambil dari www.portal.cbn.net.id

Pusing...pertanda fisik tidak dalam keadaan fit, badan terasa kurang sehat dan tubuh terasa ada yang mengganggu. Pusing memang sangat mengganggu aktifitas keseharian kita, baik itu yang bersifat pribadi maupun yang bersifat sosial. Yach....aku hanya berharap untuk lepas dari tekanan penyakit pusing ini, walaupun hal itu juga harus sesuai dengan usaha kita. Usaha ini mempunyai makna yach.....kita harus berusaha mengobati penyakit tersebut. Mungkin hal ini bagi kebanyakan orang dianggap sesuatu yang sepele, walaupun sebenarnya juga dapat berakibat sesuatu yang lebih fatal. Bisa juga di awali dengan pusing nantinya akan ditemukan penyakit-penyakit yang menyertainya, yang mungkin juga lebih berbahaya. Kalau untukku semoga saja tidak seperti itu, yach...ingin cepat sehat kembali tanpa merasakan ada rasa sakit dimanapun juga di tubuhku ini.
Rasa sakit memang salah satu yang mesti pernah dirasakan siapa saja selama masih hidup. Tetapi dengan rasa kesakitan tersebut dapat mengingatkan kita akan pentingnya kesehatan. Kesehatan terasa sangat dirindukan pada saat sakit. Bayangan kita kalau sudah sehat ingin sekali bertindak seperti dan seperti itu. Seakan-akan kesehatan merupakan suatu kenikmatan yang takkan dapat tertandingi oleh apapun juga. Itulah sifat manusia kalau sedang mendapatkan cobaan inginnya segera lepas dari cobaan yang sedang diberikan.
Rasa pusing memang sangat mengganggu terhadap kegiatan lain yang akan di kerjakan, termasuk dapat merusak konsentrasi di dalam berkarya seni. Ide yang tadinya sudah diperoleh menjadi sangat sulit untuk divisualkan. Bentuk imajinasi sudah didapat menjadi terasa sulit untuk diungkapkan dalam bentuk karya seni yang lebih bermakna. Bagaimana kita bisa mengungkapkan karya seni, kalau merasakan sakit saja inginnya mau tidur dan dapat melupakan sakitnya itu sendiri. Memang manusia itu inginnya dapat yang enak-enak melulu.
Karya-karya yang sudah mulai tercipta sekarang menjadi terganggu. Terganggu karena rasa pusing ini,. walaupun jika diteruskan juga masih bisa, tetapi hasil yang di dapat takkan bisa terwujud secara maksimal. Penciptaan karya seni memang membutuhkan satu konsentrasi ekstra. Tanpa konsentrasi karya seni yang dicipta akan terbentuk kesan yang kurang bermakna, bentuknya menjadi kurang adanya greget, kurang bisa memberikan kesan gebyar dalam nilai karya cipta yang telah terbentuk tersebut. Ampang, ringan tanpa adanya bobot yang sepadan yang seharusnya dapat terbentuk. Penciptanya sendiri tidak akan merasa puas dengan hasil yang dibuatnya. Penyakit ringan tersebut dapat membuat sesuatu menjadi berabe atau kacau balau semuanya.
Permasalahan di atas dapat kita jadikan satu pegangan bahwa di dalam berkarya seni haruslah dalam keadaan sehat wal-afiat. Sehingga kita bisa berfikir jernih, bisa mencipta dengan baik sesuai dengan keinginan yang ada di dalam diri kita sendiri. Kesimpulannya adalah berkaryalah selagi kita masih sehat, dan beristirahatlah sewaktu kita di landa sakit. Dengan demikian kita bisa memanfaatkan waktu yang seefisien mungkin dan seoptimal mungkin. Hingga saat berkarya nantinya dapat menghasilkan sesuatu yang maksimal atau mungkin juga dapat melahirkan sebuah karya seni yang fenomenal. Semoga semua keinginan dapat tercapai....yaitu dapat segera sembuh dan dapat melahirkan karya seni rupa yang fenomenal.
Like
ccc

Add to Cart

KARYA CIPTA PARA PELUKIS BALI I

KARYA CIPTA PARA PELUKIS BALI I

Lukisan dari I Gusti Nyoman Gunarsa.



Lukisan Impressionisme Bali.



Lukisan Burung Bali



Karya Cipta Para Pelukis Bali, Koleksi Bernilai Tinggi

Kenal lukisan “Mona Lisa”? Kenal dong, itu kan karya Leonardo da Vinci. Tahu “Sun Flower”nya Van Gogh? Ya iyalah, lukisan itu dibuat tahun 1888 di Arles, Perancis. Pernah melihat “The Nightwatch” karya Rembrandt? So pasti, itu lukisan paling terkenal! Kalau lukisan “Legong Dancers” milik I Nyoman Gunarsa? Mmm … sebentar, kayaknya pernah dengar sih. Suka lukisan I Gusti Nyoman Lempad? Waduh, siapa tuh …?

Ada kalanya kita begitu akrab dengan lukisan hasil karya bangsa Barat, tapi kurang mengenal pelukis-pelukis hebat bangsa kita sendiri, apalagi mengapresiasi lukisan-lukisan mereka. Sebelum menjelajah ke seluruh Nusantara, kita berkenalan dengan pelukis-pelukis Bali dulu yuuk …

I Nyoman Gunarsa adalah salah satu pelukis hebat yang lahir di Klungkung pada 15 April 1944. Ia memperoleh pendidikan seni di ASRI (Akademi seni Rupa Indonesia) Yogyakarta. Di Yogya pula, Nyoman Gunarsa mendirikan museum seni, yang mulai dibangun pada tahun 1987 dan diresmikan pada 31 Maret 1989 oleh Claire Wolfowitz, isteri Dubes Amerika untuk Indonesia pada waktu itu, Paul Wolfowitz. Saat ini Nyoman Gunarsa tinggal di Bali, dan masih terus melukis..

“Saya melukis garis sebagaimana saya bernyanyi, dan saya meletakkan warna sebagaimana saya menari” demikian kata Nyoman Gunarsa. Hasil karyanya memperlihatkan kebebasan, baik dalam garis maupun warna. Lukisan-lukisan Gunarsa sudah beredar di balai-balai lelang seni di luar negri, dan memperoleh harga yang sangat tinggi. Saya jatuh cinta pada lukisan di atas, tapi patah hati dengan harganya yang mencapai 100 juta rupiah …

Bali, khususnya Ubud, memang tempat kelahiran para pelukis besar. Keindahan alam Bali yang luar biasa juga telah memikat banyak pelukis asing untuk melupakan negeri kelahirannya dan menetap di Pulau Dewata. Don Antonio Blanco adalah salah satunya. Pelukis kelahiran Spanyol tahun 1911 ini sangat piawai melukiskan keindahan wanita. Model yang dipakai adalah isterinya sendiri, Ni Ronji, dan anak sulungnya, Tjempaka Blanco. Blanco meninggal tahun 1999 dalam usia 88 tahun, dan jenazahnya di’aben’ dengan upacara Hindu Bali. Putranya, Made mario Blanco meneruskan jejak sang ayah menjadi pelukis, sekarang tinggal di rumah sekaligus museum Antonio Blanco di Ubud.

Selain Antonio Blanco, salah seorang pelukis Barat yang juga menjadi ‘orang Bali’ adalah Le Majeur. Pelukis asal Perancis ini juga beristrikan wanita Bali, bernama Ni Polok. Kisah hidup Ni Polok yang mengharukan, bagaimana ia ditempa oleh Le Majeur dari seorang gadis desa yang buta huruf menjadi wanita Bali yang ulet, ditulis oleh Yati Maryati Wiharja sekitar tahun 1980an. Sama seperti Blanco, Le Majeur juga menjadikan Ni Polok sebagai model lukisannya. Mengharukan membaca bagaimana Ni Polok harus berbaring berjam-jam di pasir yang panas tanpa pakaian ketika menjadi model lukisan suaminya, tanpa sedikitpun berani bergerak apalagi protes …

I Gusti Nyoman Lempad, pelukis legendaris Bali yang dilahirkan di Bedahulu tahun 1862 ini juga dikenal sebagai ‘undagi’ (perencana bangunan tradisional) dan ’sangging’ (pembuat perangkat untuk upacara ngaben). Tahun 1970 ia mendapatkan Anugerah Seni dalam bidang seni lukis dari Pemerintah Indonesia, dan pada tahun 1982 menerima penghargaan Dharma Kusuma dari Pemda Bali.

Selain pelukis-pelukis besar di atas, masih banyak pelukis-pelukis Bali yang karyanya sangat indah. Made Wianta adalah salah satu pelukis generasi sekarang yang karyanya menjulang di jagat seni lukis.

Berkeliling gallery lukisan di Bali benar-benar wisata mata dan wisata nurani yang menghanyutkan. Sayangnya, setiap lukisan yang saya taksir selalu berharga di atas 50 juta (aduhai!), sehingga akhirnya saya cukup puas dengan menikmati saja lukisan-lukisan indah itu, tidak berani lagi bertanya berapa harganya …

Tetapi sebenarnya — sebagaimana saya tulis di depan — harga lukisan sangat relatif, dan tidak ada standarnya. Kalau kita benar-benar menyukai sebuah lukisan, dan sang pelukis memiliki ‘chemistry’ kepada kita (maksudnya ’sreg’ kepada kita), dia bisa saja menurunkan harga lukisan atau bahkan memberikannya secara cuma-cuma kepada kita. Yah, persis seperti kakak saya, yang karena saya tidak mau membeli anthuriumnya, akhirnya malah memberikan 4 pot anthurium dan aglaonema kepada saya (baca Gelombang Cinta, Mahal Tiada Tara

Di sebuah galeri, saya jatuh cinta pada sebuah lukisan penari bali karya Made Wianta, tapi ya itu tadi … harganya 60 juta. Jelas saya langsung mengkeret. Staf galeri, melihat saya benar-benar berminat, menanyakan berapa harga yang bersedia saya bayar. Dia akan menelepon Wianta, siapa tahu Wianta mau melepaskan lukisannya. Laah … saya tetap saja tidak bisa menyebutkan angka. Harga 60 juta, mau saya tawar berapa? Masak saya bilang 6 juta? Nanti Wianta malah tersinggung, kan? Waktu itu saya belum tahu, kalau Wianta adalah salah satu pelukis papan atas yang harga lukisannya bisa di atas 100 juta. Nyesel juga saya tidak mau menemui Wianta sendiri. Siapa tahu, setelah bertemu, dia malah menghadiahkan lukisan itu kepada saya …. Olala!

Tidak ada ruginya mengoleksi salah satu lukisan Bali di rumah. Tentu saja pilih lukisan yang harganya sesuai dengan rumah kita. Pasti lucu sekali kalau kita tinggal di rumah RSSSSSSSS (rumah sangat sederhana sehingga selonjor sedikit saja susah sekali) tapi mengoleksi lukisan seharga ratusan juta …(artikel ini diambil dari www.tutinonka.wordpress.com/.../lukisan-bali-koleksi-bernilai-tinggi).





Salah satu karya pelukis Bali: Gusti Made Baret Saraswati



"Tari Baris.." karya Gde Sobrat.







Lukisan Tradisional Bali karya Ketut Ngendon



Lukisan karya Wayan Bendi.



Lukisan "Meja-Arja Dance"





SEJARAH BALI

Masa Prasejarah

Zaman prasejarah Bali merupakan awal dari sejarah masyarakat Bali, yang ditandai oleh kehidupan masyarakat pada masa itu yang belum mengenal tulisan. Walaupun pada zaman prasejarah ini belum dikenal tulisan untuk menuliskan riwayat kehidupannya, tetapi berbagai bukti tentang kehidupan pada masyarakat pada masa itu dapat pula menuturkan kembali keadaanya Zaman prasejarah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang, maka bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang sudah tentu tidak dapat memenuhi segala harapan kita.

Berkat penelitian yang tekun dan terampil dari para ahli asing khususnya bangsa Belanda dan putra-putra Indonesia maka perkembangan masa prasejarah di Bali semakin terang. Perhatian terhadap kekunaan di Bali pertama-tama diberikan oleh seorang naturalis bernama Georg Eberhard Rumpf, pada tahun 1705 yang dimuat dalam bukunya Amboinsche Reteitkamer. Sebagai pionir dalam penelitian kepurbakalaan di Bali adalah W.O.J. Nieuwenkamp yang mengunjungi Bali pada tahun 1906 sebagai seorang pelukis. Dia mengadakan perjalanan menjelajahi Bali. Dan memberikan beberapa catatan antara lain tentang nekara Pejeng, desa Trunyan, Pura Bukit Penulisan. Perhatian terhadap nekara Pejeng ini dilanjutkan oleh K.C Crucq tahun 1932 yang berhasil menemukan tiga bagian cetakan nekara Pejeng di Pura Desa Manuaba desa Tegallalang.

Penelitian prasejarah di Bali dilanjutkan oleh Dr. H.A.R. van Heekeren dengan hasil tulisan yang berjudul Sarcopagus on Bali tahun 1954. Pada tahun 1963 ahli prasejarah putra Indonesia Drs. R.P. Soejono melakukan penggalian ini dilaksanakan secara berkelanjutan yaitu tahun 1973, 1974, 1984, 1985. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap benda-benda temuan yang berasal dari tepi pantai Teluk Gilimanuk diduga bahwa lokasi Situs Gilimanuk merupakan sebuah perkampungan nelayan dari zaman perundagian di Bali. Di tempat ini sekarang berdiri sebuah museum.

Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang di Bali, kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi :

  1. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
  2. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
  3. Masa bercocok tanam
  4. Masa perundagian

Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana

Sisa-sisa dari kebudayaan paling awal diketahui dengan penelitian-penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960 dengan ditemukan di desa Sambiran (Buleleng Timur), dan ditepi timur dan tenggara Danau Batur (Kintamani) alat-alat batu yang digolongkan kapak genggam, kapak berimbas, serut dan sebagainya. Alat-alat batu yang dijumpai di kedua daerah tersebut kini disimpan di museum Gedung Arca di Bedahulu Gianyar.

Kehidupan penduduk pada masa ini adalah sederhana sekali, sepenuhnya tergantung pada alam lingkungannya. Mereka hidup mengembara dari satu tempat ketempat lainnya. Daerah-daerah yang dipilihnya ialah daerah yang mengandung persediaan makanan dan air yang cukup untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Hidup berburu dilakukan oleh kelompok kecil dan hasilnya dibagi bersama. Tugas berburu dilakukan oleh kaum laki-laki, karena pekerjaan ini memerlukan tenaga yang cukup besar untuk menghadapi segala bahaya yang mungkin terjadi. Perempuan hanya bertugas untuk menyelesaikan pekerjaan yang ringan misalnya mengumpulkan makanan dari alam sekitarnya. Hingga saat ini belum ditemukan bukti-bukti apakah manusia pada masa itu telah mengenal bahasa sebagai alat bertutur satu sama lainnya.

Walaupun bukti-bukti yang terdapat di Bali kurang lengkap, tetapi bukti-bukti yang ditemukan di daerah Pacitan dapatlah kiranya dijadikan pedoman. Para ahli memperkirakan bahwa alat-alat batu dari Pacitan yang sezaman dan mempunyai banyak persamaan dengan alat-alat batu dari Sembiran, dihasilkan oleh jenis manusia. Pithecanthropus erectus atau keturunannya. Kalau demikian mungkin juga alat-alat baru dari Sambiran dihasilkan oleh manusia jenis Pithecanthropus atau keturunannya.

Masa Berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut

Pada masa ini corak hidup yang berasal dari masa sebelumnya masih berpengaruh. Hidup berburu dan mengumpulkan makanan yang terdapat dialam sekitar dilanjutkan terbukti dari bentuk alatnya yang dibuat dari batu, tulang dan kulit kerang. Bukti-bukti mengenai kehidupan manusia pada masa mesolithik berhasil ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding, Pecatu (Badung). Goa ini terletak di Pegunungan gamping di semenanjung Benoa. Di daerah ini terdapat goa yang lebih besar ialah goa Karang Boma, tetapi goa ini tidak memberikan suatu bukti tentang kehidupan yang pernah berlangsung disana.Dalam penggalian goa Selonding ditemukan alat-alat terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang. Diantara alat-alat tulang terdapat beberapa lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan.

Alat-alat semacam ini ditemukan pula di goa-goa Sulawesi Selatan pada tingkat perkembangan kebudayaan Toala dan terkenal pula di Australia Timur. Di luar Bali ditemukan lukisan dinding-dinding goa , yang menggambarkan kehidupan sosial ekonomi dan kepercayaan masyarakat pada waktu itu. Lukisan-lukisan di dinding goa atau di dinding-dinding karang itu antara lain yang berupa cap-cap tangan, babi rusa, burung, manusia, perahu, lambang matahari, lukisan mata dan sebagainya. Beberapa lukisan lainnya ternyata lebih berkembang pada tradisi yang lebih kemudian dan artinya menjadi lebih terang juga diantaranya adalah lukisan kadal seperti yang terdapat di pulau Seram dan Irian Jaya, mungkin mengandung arti kekuatan magis yang dianggap sebagai penjelmaan roh nenek moyang atau kepala suku.

Masa bercocok tanam

Masa bercocok tanam lahir melalui proses yang panjang dan tak mungkin dipisahkan dari usaha manusia prasejarah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya pada masa-masa sebelumnya. Masa neolithik amat penting dalam sejarah perkembangan masyarakat dan peradaban, karena pada masa ini beberapa penemuan baru berupa penguasaan sumber-sumber alam bertambah cepat. Penghidupan mengumpulkan makanan (food gathering) berubah menjadi menghasilkan makanan (food producing). Perubahan ini sesungguhnya sangat besar artinya mengingat akibatnya yang sangat mendalam serta meluas kedalam perekonomian dan kebudayaan.

Sisa-sisa kehidupan dari masa bercocok tanam di Bali antara lain berupa kapak batu persegi dalam berbagai ukuran, belincung dan panarah batang pohon. Dari teori Kern dan teori Von Heine Geldern diketahui bahwa nenek moyang bangsa Austronesia, yang mulai datang di kepulauan kita kira-kira 2000 tahun S.M ialah pada zaman neolithik. Kebudayaan ini mempunyai dua cabang ialah cabang kapak persegi yang penyebarannya dari dataran Asia melalui jalan barat dan peninggalannya terutama terdapat di bagian barat Indonesia dan kapak lonjong yang penyebarannya melalui jalan timur dan peninggalan-peninggalannya merata dibagian timur negara kita. Pendukung kebudayaan neolithik (kapak persegi) adalah bangsa Austronesia dan gelombang perpindahan pertama tadi disusul dengan perpindahan pada gelombang kedua yang terjadi pada masa perunggu kira-kira 500 S.M. Perpindahan bangsa Austronesia ke Asia Tenggara khususnya dengan memakai jenis perahu cadik yang terkenal pada masa ini. Pada masa ini diduga telah tumbuh perdagangan dengan jalan tukar menukar barang (barter) yang diperlukan. Dalam hal ini sebagai alat berhubungan diperlukan adanya bahasa. Para ahli berpendapat bahwa bahasa Indonesia pada masa ini adalah Melayu Polinesia atau dikenal dengan sebagai bahasa Austronesia.

Masa Perundagian

Gong, yang ditemukan pula di berbagai tempat di Nusantara, merupakan alat musik yang diperkirakan berakar dari masa perundagian.

Dalam masa neolithik manusia bertempat tinggal tetap dalam kelompok-kelompok serta mengatur kehidupannya menurut kebutuhan yang dipusatkan kepada menghasilkan bahan makanan sendiri (pertanian dan peternakan). Dalam masa bertempat tinggal tetap ini, manusia berdaya upaya meningkatkan kegiatan-kegiatannya guna mencapai hasil yang sebesar-besarnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pada zaman ini jenis manusia yang mendiami Indonesia dapat diketahui dari berbagai penemuan sisa-sisa rangka dari berbagai tempat, yang terpenting diantaranya adalah temuan-temuan dari Anyer Lor (Jawa Barat), Puger (Jawa Timur), Gilimanuk (Bali) dan Melolo (Sumbawa). Dari temuan kerangka yang banyak jumlahnya menunjukkan ciri-ciri manusia. Sedangkan penemuan di Gilimanuk dengan jumlah kerangka yang ditemukan 100 buah menunjukkan ciri Mongolaid yang kuat seperti terlihat pada gigi dan muka. Pada rangka manusia Gilimanuk terlihat penyakit gigi dan encok yang banyak menyerang manusia ketika itu.

Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. Adapun cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras.Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana). Benda-benda temuan ditempat ini ternyata cukup menarik perhatian diantaranya terdapat hampir 100 buah kerangka manusia dewasa dan anak-anak, dalam keadaan lengkap dan tidak lengkap. Tradisi penguburan dengan tempayan ditemukan juga di Anyer Jawa Barat, Sabang (Sulawesi Selatan), Selayar, Roti dan Melolo (Sumba). Di luar Indonesia tradisi ini berkembang di Filipina, Thailand, Jepang dan Korea.

Kebudayaan megalithik ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Batu-batu ini mempunyai biasanya tidak dikerjakan secara halus, hanya diratakan secara kasar saja untuk mendapat bentuk yang diperlukan. di daerah Bali tradisi megalithik masih tampak hidup dan berfungsi di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Adapun temuan yang penting ialah berupa batu berdiri (menhir) yang terdapat di Pura Ratu Gede Pancering Jagat di desa Trunyan. Di Pura in terdapat sebuah arca yang disebut arca Da Tonta yang memiliki ciri-ciri yang berasal dari masa tradisi megalithik. Arca ini tingginya hampir 4 meter. Temuan lainnya ialah di desa Sembiran (Buleleng), yang terkenal sebagai desa Bali kuna, disamping desa-desa Trunyan dan Tenganan. Tradisi megalithik di desa Sembiran dapat dilihat pada pura-pura yang dipuja penduduk setempat hingga dewasa ini. dari 20 buah pura ternyata 17 buah pura menunjukkan bentuk-bentuk megalithik dan pada umumnya dibuat sederhana sekali. Diantaranya ada berbentuk teras berundak, batu berdiri dalam palinggih dan ada pula yang hanya merupakan susunan batu kali.

Temuan lainnya yang penting juga ialah berupa bangunan-bangunan megalithik yang terdapat di desa Gelgel (Klungkung).Temuan yang penting di desa Gelgel ialah sebuah arca menhir yaitu terdapat di Pura Panataran Jro Agung. Arca menhir ini dibuat dari batu dengan penonjolan kelamin wanita yang mengandung nilai-nilai keagamaan yang penting yaitu sebagai lambang kesuburan yang dapat memberi kehidupan kepada masyarakat.

Masuknya Agama Hindu

Gua Gajah (sekitar abad XI), salah satu peninggalan masa awal periode Hindu di Bali.

Berakhirnya zaman prasejarah di Indonesia ditandai dengan datangnya bangsa dan pengaruh Hindu. Pada abad-abad pertama Masehi sampai dengan lebih kurang tahun 1500, yakni dengan lenyapnya kerajaan Majapahit merupakan masa-masa pengaruh Hindu. Dengan adanya pengaruh-pengaruh dari India itu berakhirlah zaman prasejarah Indonesia karena didapatkannya keterangan tertulis yang memasukkan bangsa Indonesia ke dalam zaman sejarah. Berdasarkan keterangan-keterangan yang ditemukan pada prasasti abad ke-8 Masehi dapatlah dikatakan bahwa periode sejarah Bali Kuno meliputi kurun waktu antara abad ke-8 Masehi sampai dengan abad ke-14 Masehi dengan datangnya ekspedisi Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit yang dapat mengalahkan Bali. Nama Balidwipa tidaklah merupakan nama baru, namun telah ada sejak zaman dahulu. Hal ini dapat diketahui dari beberapa prasasti, di antaranya dari prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada tahun 913 Masehi yang menyebutkan kata "Walidwipa". Demikian pula dari prasasti-prasasti Raja Jayapangus, seperti prasasti Buwahan D dan prasasti Cempaga A yang berangka tahun 1181 Masehi.

Di antara raja-raja Bali, yang banyak meninggalkan keterangan tertulis yang juga menyinggung gambaran tentang susunan pemerintahan pada masa itu adalah Udayana, Jayapangus , Jayasakti, dan Anak Wungsu. Dalam mengendalikan pemerintahan, raja dibantu oleh suatu Badan Penasihat Pusat. Dalam prasasti tertua 882 Masehi–-914 Masehi badan ini disebut dengan istilah "panglapuan". Sejak zaman Udayana, Badan Penasihat Pusat disebut dengan istilah "pakiran-kiran i jro makabaihan". Badan ini beranggotakan beberapa orang senapati dan pendeta Siwa dan Budha.

Di dalam prasasti-prasasti sebelum Raja Anak Wungsu disebut-sebut beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu. Akan tetapi, baru pada zaman Raja Anak Wungsu, kita dapat membedakan jenis seni menjadi dua kelompok yang besar, yaitu seni keraton dan seni rakyat. Tentu saja istilah seni keraton ini tidak berarti bahwa seni itu tertutup sama sekali bagi rakyat. Kadang-kadang seni ini dipertunjukkan kepada masyarakat di desa-desa atau dengan kata lain seni keraton ini bukanlah monopoli raja-raja.

Dalam bidang agama, pengaruh zaman prasejarah, terutama dari zaman megalitikum masih terasa kuat. Kepercayaan pada zaman itu dititikberatkan kepada pemujaan roh nenek moyang yang disimboliskan dalam wujud bangunan pemujaan yang disebut teras piramid atau bangunan berundak-undak. Kadang-kadang di atas bangunan ditempatkan menhir, yaitu tiang batu monolit sebagai simbol roh nenek moyang mereka. Pada zaman Hindu hal ini terlihat pada bangunan pura yang mirip dengan pundan berundak-undak. Kepercayaan pada dewa-dewa gunung, laut, dan lainnya yang berasal dari zaman sebelum masuknya Hindu tetap tercermin dalam kehidupan masyarakat pada zaman setelah masuknya agama Hindu. Pada masa permulaan hingga masa pemerintahan Raja Sri Wijaya Mahadewi tidak diketahui dengan pasti agama yang dianut pada masa itu. Hanya dapat diketahui dari nama-nama biksu yang memakai unsur nama Siwa, sebagai contoh biksu Piwakangsita Siwa, biksu Siwanirmala, dan biksu Siwaprajna. Berdasarkan hal ini, kemungkinan agama yang berkembang pada saat itu adalah agama Siwa. Baru pada masa pemerintahan Raja Udayana dan permaisurinya, ada dua aliran agama besar yang dipeluk oleh penduduk, yaitu agama Siwa dan agama Budha. Keterangan ini diperoleh dari prasasti-prasastinya yang menyebutkan adanya mpungku Sewasogata (Siwa-Buddha) sebagai pembantu raja.

Masa 1343-1846

Masa ini dimulai dengan kedatangan ekspedisi Gajah Mada pada tahun 1343.

Kedatangan Ekspedisi Gajah Mada

Ekspedisi Gajah Mada ke Bali dilakukan pada saat Bali diperintah oleh Kerajaan Bedahulu dengan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa. Dengan terlebih dahulu membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada memimpin ekspedisi bersama Panglima Arya Damar dengan dibantu oleh beberapa orang arya. Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan Kerajaan Bedahulu. Pertempuran ini mengakibatkan raja Bedahulu dan putranya wafat. Setelah Pasung Grigis menyerah, terjadi kekosongan pemerintahan di Bali. Untuk itu, Majapahit menunjuk Sri Kresna Kepakisan untuk memimpin pemerintahan di Bali dengan pertimbangan bahwa Sri Kresna Kepakisan memiliki hubungan darah dengan penduduk Bali Aga. Dari sinilah berawal wangsa Kepakisan.

Periode Gelgel

Karena ketidakcakapan Raden Agra Samprangan menjadi raja, Raden Samprangan digantikan oleh Dalem Ketut Ngulesir. Oleh Dalem Ketut Ngulesir, pusat pemerintahan dipindahkan ke Gelgel (dibaca /gÉ›l'gÉ›l/). Pada saat inilah dimulai Periode Gelgel dan Raja Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja pertama. Raja yang kedua adalah Dalem Watu Renggong (1460—1550). Dalem Watu Renggong menaiki singgasana dengan warisan kerajaan yang stabil sehingga ia dapat mengembangkan kecakapan dan kewibawaannya untuk memakmurkan Kerajaan Gelgel. Di bawah pemerintahan Watu Renggong, Bali (Gelgel) mencapai puncak kejayaannya. Setelah Dalem Watu Renggong wafat ia digantikan oleh Dalem Bekung (1550—1580), sedangkan raja terakhir dari zaman Gelgel adalah Dalem Di Made (1605—1686).

Zaman Kerajaan Klungkung

Kerajaan Klungkung sebenarnya merupakan kelanjutan dari Dinasti Gelgel. Pemberontakan I Gusti Agung Maruti ternyata telah mengakhiri Periode Gelgel. Hal itu terjadi karena setelah putra Dalem Di Made dewasa dan dapat mengalahkan I Gusti Agung Maruti, istana Gelgel tidak dipulihkan kembali. Gusti Agung Jambe sebagai putra yang berhak atas takhta kerajaan, ternyata tidak mau bertakhta di Gelgel, tetapi memilih tempat baru sebagai pusat pemerintahan, yaitu bekas tempat persembunyiannya di Semarapura.

Dengan demikian, Dewa Agung Jambe (1710-1775) merupakan raja pertama zaman Klungkung. Raja kedua adalah Dewa Agung Di Made I, sedangkan raja Klungkung yang terakhir adalah Dewa Agung Di Made II. Pada zaman Klungkung ini wilayah kerajaan terbelah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan kecil ini selanjutnya menjadi swapraja (berjumlah delapan buah) yang pada zaman kemerdekaan dikenal sebagai kabupaten.

Kerajaan-kerajaan pecahan Klungkung

  1. Kerajaan Badung, yang kemudian menjadi Kabupaten Badung.
  2. Kerajaan Bangli, yang kemudian menjadi Kabupaten Bangli.
  3. Kerajaan Buleleng, yang kemudian menjadi Kabupaten Buleleng.
  4. Kerajaan Gianyar, yang kemudian menjadi Kabupaten Gianyar.
  5. Kerajaan Karangasem, yang kemudian menjadi Kabupaten Karangasem.
  6. Kerajaan Klungkung, yang kemudian menjadi Kabupaten Klungkung.
  7. Kerajaan Tabanan, yang kemudian menjadi Kabupaten Tabanan.

Masa 1846-1949

Pada periode ini mulai masuk intervensi Belanda ke Bali dalam rangka "pasifikasi" terhadap seluruh wilayah Kepulauan Nusantara. Dalam proses yang secara tidak disengaja membangkitkan sentimen nasionalisme Indonesia ini, wilayah-wilayah yang belum ditangani oleh administrasi Batavia dicoba untuk dikuasai dan disatukan di bawah administrasi. Belanda masuk ke Bali disebabkan beberapa hal: beberapa aturan kerajaan di Bali yang dianggap mengganggu kepentingan dagang Belanda, penolakan Bali untuk menerima monopoli yang ditawarkan Batavia, dan permintaan bantuan dari warga Pulau Lombok yang merasa diperlakukan tidak adil oleh penguasanya (dari Bali).

Perlawanan Terhadap Orang-Orang Belanda

Masa ini merupakan masa perlawanan terhadap kedatangan bangsa Belanda di Bali. Perlawanan-perlawanan ini ditandai dengan meletusnya berbagai perang di wilayah Bali. Perlawanan-perlawanan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Perang Buleleng (1846) 2. Perang Jagaraga (1848--1849) 3. Perang Kusamba (1849) 4. Perang Banjar (1868) 5. Puputan Badung (1906) 6. Puputan Klungkung (1908) Dengan kemenangan Belanda dalam seluruh perang dan jatuhnya kerajaan Klungkung ke tangan Belanda, berarti secara keseluruhan Bali telah jatuh ke tangan Belanda.

Zaman Penjajahan Belanda

Sejak kerajaan Buleleng jatuh ke tangan Belanda mulailah pemerintah Belanda ikut campur mengurus soal pemerintahan di Bali. Hal ini dilaksanakan dengan mengubah nama raja sebagai penguasa daerah dengan nama regent untuk daerah Buleleng dan Jembrana serta menempatkan P.L. Van Bloemen Waanders sebagai controleur yang pertama di Bali.

Struktur pemerintahan di Bali masih berakar pada struktur pemerintahan tradisional, yaitu tetap mengaktifkan kepemimpinan tradisional dalam melaksanakan pemerintahan di daerah-daerah. Untuk di daerah Bali, kedudukan raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, yang pada waktu pemerintahan kolonial didampingi oleh seorang controleur. Di dalam bidang pertanggungjawaban, raja langsung bertanggung jawab kepada Residen Bali dan Lombok yang berkedudukan di Singaraja, sedangkan untuk Bali Selatan, raja-rajanya betanggung jawab kepada Asisten Residen yang berkedudukan di Denpasar. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga administrasi, pemerintah Belanda telah membuka sebuah sekolah rendah yang pertama di Bali, yakni di Singaraja (1875) yang dikenal dengan nama Tweede Klasse School. Pada tahun 1913 dibuka sebuah sekolah dengan nama Erste Inlandsche School dan kemudian disusul dengan sebuah sekolah Belanda dengan nama Hollands Inlandshe School (HIS) yang muridnya kebanyakan berasal dari anak-anak bangsawan dan golongan kaya.

Lahirnya Organisasi Pergerakan

Akibat pengaruh pendidikan yang didapat, para pemuda pelajar dan beberapa orang yang telah mendapatkan pekerjaan di kota Singaraja berinisiatif untuk mendirikan sebuah perkumpulan dengan nama "Suita Gama Tirta" yang bertujuan untuk memajukan masyarakat Bali dalam dunia ilmu pengetahuan melalui ajaran agama. Sayang perkumpulan ini tidak burumur panjang. Kemudian beberapa guru yang masih haus dengan pendidikan agama mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama "Shanti" pada tahun 1923. Perkumpulan ini memiliki sebuah majalah yang bernama "Shanti Adnyana" yang kemudian berubah menjadi "Bali Adnyana".

Pada tahun 1925 di Singaraja juga didirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama "Suryakanta" dan memiliki sebuah majalah yang diberi nama "Suryakanta". Seperti perkumpulan Shanti, Suryakanta menginginkan agar masyarakat Bali mengalami kemajuan dalam bidang pengetahuan dan menghapuskan adat istiadat yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sementara itu, di Karangasem lahir suatu perhimpunan yang bernama "Satya Samudaya Baudanda Bali Lombok" yang anggotanya terdiri atas pegawai negeri dan masyarakat umum dengan tujuan menyimpan dan mengumpulkan uang untuk kepentingan studie fons.

Zaman Pendudukan Jepang

Setelah melalui beberapa pertempuran, tentara Jepang mendarat di Pantai Sanur pada tanggal 18 dan 19 Februari 1942. Dari arah Sanur ini tentara Jepang memasuki kota Denpasar dengan tidak mengalami perlawanan apa-apa. Kemudian, dari Denpasar inilah Jepang menguasai seluruh Bali. Mula-mula yang meletakkan dasar kekuasaan Jepang di Bali adalah pasukan Angkatan Darat Jepang (Rikugun). Kemudian, ketika suasana sudah stabil penguasaan pemerintahan diserahkan kepada pemerintahan sipil.

Karena selama pendudukan Jepang suasana berada dalam keadaan perang, seluruh kegiatan diarahkan pada kebutuhan perang. Para pemuda dididik untuk menjadi tentara Pembela Tanah Air (PETA). Untuk daerah Bali, PETA dibentuk pada bulan Januari tahun 1944 yang program dan syarat-syarat pendidikannya disesuaikan dengan PETA di Jawa.

Zaman Kemerdekaan

Menyusul Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 23 Agustus 1945, Mr. I Gusti Ketut Puja tiba di Bali dengan membawa mandat pengangkatannya sebagai Gubernur Sunda Kecil. Sejak kedatangan beliau inilah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Bali mulai disebarluaskan sampai ke desa-desa. Pada saat itulah mulai diadakan persiapan-persiapan untuk mewujudkan susunan pemerintahan di Bali sebagai daerah Sunda Kecil dengan ibu kotanya Singaraja.

Sejak pendaratan NICA di Bali, Bali selalu menjadi arena pertempuran. Dalam pertempuran itu pasukan RI menggunakan sistem gerilya. Oleh karena itu, MBO sebagai induk pasukan selalu berpindah-pindah. Untuk memperkuat pertahanan di Bali, didatangkan bantuan ALRI dari Jawa yang kemudian menggabungkan diri ke dalam pasukan yang ada di Bali. Karena seringnya terjadi pertempuran, pihak Belanda pernah mengirim surat kepada Rai untuk mengadakan perundingan. Akan tetapi, pihak pejuang Bali tidak bersedia, bahkan terus memperkuat pertahanan dengan mengikutsertakan seluruh rakyat.

Untuk memudahkan kontak dengan Jawa, Rai pernah mengambil siasat untuk memindahkan perhatian Belanda ke bagian timur Pulau Bali. Pada 28 Mei 1946 Rai mengerahkan pasukannya menuju ke timur dan ini terkenal dengan sebutan "Long March". Selama diadakan "Long March" itu pasukan gerilya sering dihadang oleh tentara Belanda sehingga sering terjadi pertempuran. Pertempuran yang membawa kemenangan di pihak pejuang ialah pertempuran Tanah Arun, yaitu pertempuran yang terjadi di sebuah desa kecil di lereng Gunung Agung, Kabupaten Karangasem. Dalam pertempuran Tanah Arun yang terjadi 9 Juli 1946 itu pihak Belanda banyak menjadi korban. Setelah pertempuran itu pasukan Ngurah Rai kembali menuju arah barat yang kemudian sampai di Desa Marga (Tabanan). Untuk lebih menghemat tenaga karena terbatasnya persenjataan, ada beberapa anggota pasukan terpaksa disuruh berjuang bersama-sama dengan masyarakat.

Puputan Margarana

Pada waktu staf MBO berada di desa Marga, I Gusti Ngurah Rai memerintahkan pasukannya untuk merebut senjata polisi NICA yang ada di kota Tabanan. Perintah itu dilaksanakan pada 18 November 1946 (malam hari) dan berhasil baik. Beberapa pucuk senjata beserta pelurunya dapat direbut dan seorang komandan polisi Nica ikut menggabungkan diri kepada pasukan Ngurah Rai. Setelah itu pasukan segera kembali ke Desa Marga. Pada 20 November 1946 sejak pagi-pagi buta tentara Belanda mulai nengadakan pengurungan terhadap Desa Marga. Kurang lebih pukul 10.00 pagi mulailah terjadi tembak-menembak antara pasukan Nica dengan pasukan Ngurah Rai. Pada pertempuran yang seru itu pasukan bagian depan Belanda banyak yang mati tertembak. Oleh karena itu, Belanda segera mendatangkan bantuan dari semua tentaranya yang berada di Bali ditambah pesawat pengebom yang didatangkan dari Makasar. Di dalam pertempuran yang sengit itu semua anggota pasukan Ngurah Rai bertekad tidak akan mundur sampai titik darah penghabisan. Di sinilah pasukan Ngurah Rai mengadakan "Puputan" sehingga pasukan yang berjumlah 96 orang itu semuanya gugur, termasuk Ngurah Rai sendiri. Sebaliknya, di pihak Belanda ada lebih kurang 400 orang yang tewas. Untuk mengenang peristiwa tersebut kini pada bekas arena pertempuran itu didirikan Tugu Pahlawan Taman Pujaan Bangsa.

Konferensi Denpasar

Pada tanggal 18 sampai 24 Desember 1946, Konferensi denpasar berlangsung di pendopo Bali Hotel. Konferensi itu dibuka oleh Van Mook yang bertujuan untuk membentuk Negara Indonesia Timur (NIT) dengan ibu kota Makasar (Ujung Pandang).

Dengan terbentuknya Negara Indonesia Timur itu susunan pemerintahan di Bali dihidupkan kembali seperti pada zaman raja-raja dulu, yaitu pemerintahan dipegang oleh raja yang dibantu oleh patih, punggawa, perbekel, dan pemerintahan yang paling bawah adalah kelian. Di samping itu, masih ada lagi suatu dewan yang berkedudukan di atas raja, yaitu dewan raja-raja.

Penyerahan Kedaulatan

Agresi militer yang pertama terhadap pasukan pemeritahan Republik Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta dilancarakan oleh Belanda pada tanggal 21 Juli 1947. Belanda melancarkan lagi agresinya yang kedua 18 Desember 1948. Pada masa agresi yang kedua itu di Bali terus-menerus diusahakan berdirinya badan-badan perjuangan bersifat gerilya yang lebih efektif. Sehubungan dengan hal itu, pada Juli 1948 dapat dibentuk organisasi perjuangan dengan nama Gerakan Rakyat Indonesia Merdeka (GRIM). Selanjutnya, tanggal 27 November 1949, GRIM menggabungkan diri dengan organisasi perjuangan lainnya dengan nama Lanjutan Perjuangan. Nama itu kemudian diubah lagi menjadi Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Sunda Kecil.

Sementara itu, Konferensi Meja Bundar (KMB) mengenai persetujuan tentang pembentukan Uni Indonesia - Belanda dimulai sejak akhir Agustus 1949. Akhirnya, 27 Desember 1949 Belanda mengakui kedaulatan RIS. Selanjutnya, pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS diubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masa 1949-2007

Pada 12 Oktober 2002, terjadi pengeboman di daerah Kuta yang menyebabkan sekitar 202 orang meninggal dan ratusan lainnya luka-luka. Sebagian besar korban meninggal adalah warga Australia. (artikel ini diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Bali)

Bersambung Artikel Berikutnya..........KARYA CIPTA PARA PELUKIS BALI II.



Like
ccc

Add to Cart